Translate

Minggu, 11 Januari 2009

Menjadi Guru Professional Menciptakan Pembelajaran Kretif dan Menyenangkan

Resensi Buku
Menjadi Guru Professional Menciptakan Pembelajaran Kretif dan Menyenangkan
Dr. Encho Mulyasa, M.Pd
Menjadi guru bukanlah pekerjaan yang mudah dan bukan hanya sekedar mengajarkan disiplin ilmu semata, akan tetapi di dalamnya juga terdapat berbagai hal kompleks yang perlu diperhatikan oleh pendidik selama melakukan kewajibannya tersebut diantaranya profesionalisme seorang guru, peran guru dalam pembelajaran, tehinik mengajar, kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan oleh pendidik di ruang kelas, dan hal-hal yang berkaitan dengan kegiataan belajaar mengajar di ruang kelas. Keseluruhan aspek-aspek tersebut di atas secara gambalang dejelaskan oleh Dr. E. Mulyasa dalam bukunya yang berjudul “Menjadi Guru Professional Menciptakan Pembelajaran Kretif dan Menyenangkan” setebal 232 halaman penerbit PT Remaja Rosdakarya Bandung.
Selama ini, di dalam dunia pendidikan sering terjadi mall praktek pengajaran peserta didik di lingkungan sekolah yang mengakibatkan out put peserta didik yang tidak sesuai dengan standar kompetensi dasar yang ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini menurut Dr. E. Mulyasa disebabkan oleh tenaga pendidik. Banyak pendidik sekarang ini yang kurang kompeten dalam bidang studi yang ia ajarkan serta tidak menguasai tehnik mengajar yang efisien. Disamping itu mereka sama sekali tidaklah memiliki dan menjiwai 19 peran guru dalam proses pembelajaraan di sekolah dan di luar sekolah. Sembilan belas peran guru tersebut diambil dari kajian Pullias dan Young (1988), Manan (1990), serta yelon dan Weisten (1997) yaitu Sebagai pendidik, pemgajar, pembinmbing, pelatih, penasehat, pembaharu (innovator), model dan teladan, pribadi, peneliti, pendorong kreatifitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin, pemindah kemah, pembawa cerita, actor, emancipator, evaluator, pengawet, dan sebagai kulminator.
Sebagian besar guru di Indonesia sangat sedikit yang menjiwai Sembilan belas peran guru tersebut. Dari Sembilan belas aspek tersebut, rata-rata guru hanya menjiwai 5 % hingga 20% saja. Mereka hanya sekedar menjadi para pentranfer disiplin ilmu kepada peserta didik. Tanpa mau bersusah payah untuk melakukan pendekatan psikologis kepada peserta didik mereka serta melakukan usaha-usaha yang dapat meningkatkan profesionalitas mereka sebagai seorang guru. Seandainya saja, para guru dapat menyadari dan menjiwai peran tersebut 60% hingga 75% saja , maka dengan sangat yakin akan dapat mendongkrak kwalitas pendidikan Indonesia.
Keseluruhan permasalahan- permasalahan di dalam dunia pendidikan dapat teratasi apabila diadakan rekontruksi terhadap para pendidiknya. Karena yang memegang peran aktif dalam proses pendidikan adalah guru itu sendiri.
By Karman