Pagi
ini sungguh memalukan. Paperku yg berjumlah 15 halaman ternyata, halaman ke 5
nya menggunakan kertas daur ulang. Ternyata sisi lain kertas tersebut
menggunakan kertas hasil foto kopian surat keringana pembayaran SPP pada saat
kuliah S1 dulu. Sudah menjadi kebiasaanku menggunakan kertas daur ulang untuk
mencetak paper, journal, dan lain-lain. Kertas tumpukan bimbingan skripsi yang
saya kumpulkan selama 17 bulan 4 hari itu kalo mau dihitung- hitung ada 2 rim.
Daripada dikiloin, lebih baik saya gunakan untuk print sesuatu yang sifatnya
tidak serius kecuali tugas- tugas kuliah yang harus dikumpulkan ke dosen. Yah, hitung- hitung mengurangi global warming
dan mendukung go green. Seandainya saya dosen, saya promosikan ke mahasiswa-
mahasiswa saya kalo mereka punya kertas bekas, tidak apa- apa kalo mau pake
kertas daur ulang. Toh tugas- tugas tersebut kalo udah dicek sama dosen,
bukannya diarsipkan di musium arsip negara, tapi paling-palingan dikembalikan
ke mahaiswa tuk dijadikan kertas pembungkus kacang.
Pagi-pagi
kuprint tgs yang kukerjakan selayaknya seorang Bandung Bondowoso. Dengan
bangga, ku perhatikan kualitas hasil print tersebut satu persatu. Lebar 1-12
bagus. Ah yang lembar 5 sama 6 tintanya kurang jelas. Jadi saya mencetak
halaman tersebut sekali lagi. Ok, semuanya siap untuk dikumpulkan.
Sebelum
ke kampusku, kusempatkan diri tuk memodifikasi paperku biar agak tampak beda
dengan teman- teman yang lain. Kulaju motorku menuju langganan foto copy ku
sejak S1 kemarin, Foto copy perempatan Karang Malang. Iya, seperti biasanya,
bukannya menggunakan plastik mika, tapi ku memilih cover yg berbahan kertas
asturo. "Pak, jilid makalah" kataku, "tapi pake kertas yang
warna kayak gini" sambil menujuk sampel kertas berwarna seperti kulit
tokoh kartun Sponge Bob. Tanpa menunggu lama, Bapak petugas foto copy tersebut
langsung menjilid paperku. "Aduh mas, kertas nya gak ada yang kayak gitu.
Adanya kuning biasa," kata bapaknya. "Hmmmm.... yaudah pak, gak
papa", jawabku. "Daripada pake plastik mika," gumamku dalam
hati, "aduh ini tahun berapa? masa' masih pake plastik mika".
Seandainya aku dilahirkan dari keluarga konglomerat, mungkin paperku juga saya
laminating. Namun apa daya, jilid cover inipun juga saya paksakan karena hasil
kerja instant. Paper tugas Translation kemarin saja tidak saya jilid. Jangankan
jilid, cover depan pun juga tidak saya beri. Prinsip saya adalah, kalo kita
tidak yakin dengan kualitas kerja kita, maka manfaatkan potensi lain dari kerja
kita, yaitu jilid tugasmu dengan rapi. Ya, walaupun 100% tidak sepenuhnya benar
sih. Buktinya teman saya tadi pagi komplain dengan statement saya ini. Tugas
translation dia tidak mendapatkan nilai A dengan embel- embel minus di depannya
padahal sudah bersusah payah dijilid plastik mika plus cover depan. Sedangkan
paper translation saya tanpa jilid dan cover depan mendapatkan nilai di atas
paper dia.
Lima
menit kemudian paperku sudah berubah wujud dari sekor cacing menjadi seekor
kupu- kupu. Tanpa menunggu lama- lama, kusodorkan uang Rp. 5000,-. Dan bapak
itu mengembalikanku dengan uang receh senilai Rp. 2500,-. Itulah sebabnya
kenapa ku suka berlangganan jilid buku disini. Semuanya harga mahasiswa. Harga
jilid buku dengan menggunakan plastik mika maupun kertas asturo sama saja. Ya
mending pake kertas aja. Lebih tampak seperti buku.
Ku
melaju dengan motorku dengan kecepatan 20 KM. Maklum disana adalah jalan milik
kampus yang pernah saya tempati untuk menuntut ilmu selama 10 semester. Syukur
karena saya bisa keluar dalam waktu 10 semester, karena beberapa teman
seangkatanku dulu sampai sekarang masih ada disana bahkan beberapa gerombolan
seniorku juga masih setia ngangkring
di depan jurusan menunggu dosen pembimbing seperti layaknya wartawan yang ingin
mewawancara informannya. Syukur- syukur kalo bisa ketemu pada waktu itu. Kalo
tidak, anda harus datang hari berikutnya dan seterusnya hingga anda betul-
betul bertemu dengan yang anda kejar. Kalo ketemu, syukur-syukur kalo dosennya
mau bimbingan. Kalo dosennya berkenan membimbing, syukur- syukur tidak banyak
mahasiswa yang mengantri. Misalkan ada 15 orang yang mengantri, sudah
dipastikan yang urutan 7 ke atas siap- siap melakukan strategi yang pertama
“ketemu pada lain kesempatan”. Yah, yang namanya dosen adalah manusia tersibuk
di atas muka bumi ini. Sibuk ngajar, sibuk seminar, sibuk koreksi tugas- tugas
siswa, sibuk ngurus anak, istri, dan lain- lainnya. Pendek kata, apapun yang
dilakukannya pasti ada kata ‘sibuk’. Hingga saking sibuknya, sering saya
menemukan dosen pembimbing yang sibuk ngotak atik lembaran-lembaran kertas dan
di depan meja beliau ada kertas yang bertuliskan “No consultation today,
please”. Kalo sudah seperti itu, tanpa basa basi.hal yang dapat dilakukan
mahasiswa adalah “balik kanan maju, jalan” ke arah pintu keluar ruang dosen. Jadi intinya, bimbingan skripsi itu adalah
gambling. Iseng- iseng berhadiah. Jadi, kalo ada mahasiswa yang telat selesai,
jangan langsung menghakimi mahasiswa tersebut ‘malas’ pemirsa. Tapi banyak
kemungkinan. Karena faktor dosen seperti pembimbingnya susah ditemuin,
pembimbingnya suka memberikan kriteria penelitian seperti Roro Jongrang.
Ataupun bisa juga dari faktor mahasiswa itu sendiri seperti sibuk cari judul
penelitian, sibuk gonta- ganti judul penelitian, sibuk manipulasi data, sibuk
cari subject penelitian, sibuk cari responden, sibuk ngurus pacar, sibuk
memotivasi diri tuk bimbingan, sibuk memperbaiki nilai karena mengejar comlaude
hingga belasan semester, sibuk mempertebal muka tuk bimbingan karena dosen
sering mengatakan mahasiswa bego, dan sok sibuk sibuk lainnya.
Aduh,
gara- gara curcol masa- masa skripsi hampir telat dah ke kampus. Ketika sampai
dikampus, seperti biasa, tiap hari rabu ketika saya sampai diparkiran motor,
parkiran motor masih sepi sehingga saya bebas dan leluasa memilih lahan parkir
mana saja, mumpung gratis alias sudah satu paket sama SPP. Ku melangkah santai
menuju ruang kelas yang pada saat itu masih pukul 7.40 pagi.Kuintip ruang kelas
perlahan-lahan. Tampak pak dosen sedan duduk santai mengotak-atik laptopnya.
Kuarahkan pandanganku ke arah samping kanan pak dosen. Aduh, predikat mahasiswa
pertama masuk kelas minggu ini bukan aku. Padahal biasanya saya adalah mahasiwa
pertama. “Yah, wajar saja dia yang pertama masuk kelas pagi ini, karena hari
ini dia yang presentasi,” gumamku menyemangati diri.
Ku
memilih duduk di kursi paling tengah dari sederetan kursi yang berbentuk
formasi tapak kuda tersebut. Satu persatu teman sekelasku pun mulai
berdatangan. “Hai, gimana semalam? Tidur gak?” tanya temanku sambil mengambil
kursi disamping kananku. “Tidur dunk, kubangun jam 5, trus tidur lagi. Bis itu
bangunnya jam 7” jawabku sambil tertawa lebar. “Mba’ nya gimana? Tidur gak?”,
tanyaku. “Tidur dong. Eh liat dong papermu” pintanya. “Nih,” jawabku dengan
bangga sambil menyodorkan paper warna kuning pucat. “Wah, tebel ya. Berapa
halaman neh?”. “Lima belas halaman dengan appendix” jawabku singkat. Tatkala
dibukanya satu persatu, pada lembaran ke 6, ku melihat sesuatu yang aneh pada
paperku. Ada gambar kop surat dan logo institusiku pada saat S1 kemarin. “Mba’ wait” pintaku sambil menarik kembali
paperku. “Mampus, lembaran kelimanya pake kertas bekas yang terselip ditumpukan
kertas rasaku mba’”, jawabku sambil memelas. Betapa putus asanya aku ketika
kutemukan paper ku yang cantik dengan cover seharga Rp. 2500,- terselip satu
lembar kertas yang merupakan kertas daur ulang. Ini ibarat pengantin yang sudah
didandan cantik siap untuk duduk bersanding dengan mempelai, namun ternyata
memakai sandal jepit bekas.
Kelas
sudah dimulai. Dosen telah meminta dua presenter kami pada pagi itu untuk
memulai presentasinya. Namun ku masih sibuk memutar otak untuk menemukan solusi
yang terbaik buat paperku ini. Kukeluarkan kertas foto copian bahan presentasi
Matakuliah Terjemahan kemarin, dan kulepaskan satu lembar dari jepitan
staplesnya. Kucoba selipkan kertas tersebut pada bagian belakang halaman lima
paperku dengan posisi lembaran polosnya menghadap ke lembar ke 6. “Hmm....
lumayan, gak keliahatan kok”, gumamku dalam hati. Tinggal mencari silet atau
gunting tuk merapikan ujung kertas yang mencuat dan lem kertas tuk merekatkan
selipan kertas tersebut agar tidak ketahuan. Ku menyebarkan pandangan ke
seantaro kelas mencari teman yang sering membawa disgrip besar. Sapa tau aja
dia bawa gunting atau silet. Mataku terperangkap pada salah seorang temanku
yang lagi asyik menata- nata papernya yang masih belum terseples. Kuliaht dia
memegang beberapa lembaran kertas rasa yang sering dia bawa tuk persiapan
ketika dia butuh. “Ehm, eh, bisa minta kertasnya selembar tidak?” pintaku
dengan halus melebihi halusnya rambut kalo habis dismoothing. Dengan senang hati dia memberikan selembar kertas yang
kuminta. Tinggal mencari gunting dan lem saja, kecemasanku bakal berahir. Satu
persatu temanku kutanya perihal benda- benda tersebut. “Neh, ada,” jawabnya
sambil menyodorkan pisau silet, “tapi ku gak punya lem”. “Nih aku punya lem
kertas,” celoteh temanku yang satunya lagi disela- sela presenter sedang
semangat- semangatnya memberikan presentasi. “Tapi lem nya ke enceran je,”
lanjutnya. “Iya, gak papa. Asalkan bisa dipake” jawabku. Kurapikan kertas yang
tidak rapi tersebut dengan menggunakan pisau silet tadi. Setelah rapi, kemudian
kutekan tabung lem secara perlahan, ku arahkan pada sudut-sudut kertas agar
mereka melekat satu sama lain. Dan hasilnya seperti uang kertas yang basah
kuyup gara- gara terkena tumpahan teh. “Untung cuman satu sisi saja yang saya
beri lem” gumamku dalam hati. “Gimana man? Jadi gak?” tanya temanku. Ku hanya
memperlihatkan hasil lem kertas tersebut. “Udah dikandani ngeyel sih kau,” katanya sambil tertawa seperti Medusa.
Tanpa mengucap sepatah katapun, aku keluar dari ruang kelas sambil membawa
paperku tersebut. Ku melangkah naik melewati anak tangga menuju Perpustakaan
Pasca yang berada di lantai 2 gedung kuliah tersebut dengan harapan menemukan
lem disana. Walhasil, usahaku tidak sia- sia. Degan cekatan kulem bagian-
bagian yang perlu dilem. Beberapa menit kemudian paperku sudah selesai kupermak
ulang. Hasilnya lumayan.
Kumelangkah
turun menuju ruang kelas. “Gimana man? Wes
dadi rung?” tanya temanku. “Udah dong, neh coba liat,” jawabku sambil
menyodorkan paperku. Dibukanya perlahan-lahan paperku sambil mencari kertas
bekas tadi. Tiga kali dia menerka kertas bekas tersebut namun salah. Ahirnya
kutunjukkan kertas yang sudah kupermak tadi. “Wah, keren Man” puji dia. “Secara
mba’, pengalaman kerja di tempat foto kopian selama empat tahun e,” gurauku.
Ahirnya tugas paper ku dapat saya kumpulkan dengan lega menjelang berahirnya
kuliah pagi ini. Terlepas dari permasalahan kontent yang belum kuyakini benar
100 %., ya, minimal tuk tataran formal paperku sudah layak kumpul. Tinggal
menunggu mukjisat dari tuhan atas karya Titisan Bandung Bondwoso.
Yogyakarta, Wisma Bawakaraeng 18 April 2013