Translate

Jumat, 19 April 2013

Curcol Mahasiswa Bandung Bondowoso


Pagi ini sungguh memalukan. Paperku yg berjumlah 15 halaman ternyata, halaman ke 5 nya menggunakan kertas daur ulang. Ternyata sisi lain kertas tersebut menggunakan kertas hasil foto kopian surat keringana pembayaran SPP pada saat kuliah S1 dulu. Sudah menjadi kebiasaanku menggunakan kertas daur ulang untuk mencetak paper, journal, dan lain-lain. Kertas tumpukan bimbingan skripsi yang saya kumpulkan selama 17 bulan 4 hari itu kalo mau dihitung- hitung ada 2 rim. Daripada dikiloin, lebih baik saya gunakan untuk print sesuatu yang sifatnya tidak serius kecuali tugas- tugas kuliah yang harus dikumpulkan ke dosen.  Yah, hitung- hitung mengurangi global warming dan mendukung go green. Seandainya saya dosen, saya promosikan ke mahasiswa- mahasiswa saya kalo mereka punya kertas bekas, tidak apa- apa kalo mau pake kertas daur ulang. Toh tugas- tugas tersebut kalo udah dicek sama dosen, bukannya diarsipkan di musium arsip negara, tapi paling-palingan dikembalikan ke mahaiswa tuk dijadikan kertas pembungkus kacang.

Pagi-pagi kuprint tgs yang kukerjakan selayaknya seorang Bandung Bondowoso. Dengan bangga, ku perhatikan kualitas hasil print tersebut satu persatu. Lebar 1-12 bagus. Ah yang lembar 5 sama 6 tintanya kurang jelas. Jadi saya mencetak halaman tersebut sekali lagi. Ok, semuanya siap untuk dikumpulkan.

Sebelum ke kampusku, kusempatkan diri tuk memodifikasi paperku biar agak tampak beda dengan teman- teman yang lain. Kulaju motorku menuju langganan foto copy ku sejak S1 kemarin, Foto copy perempatan Karang Malang. Iya, seperti biasanya, bukannya menggunakan plastik mika, tapi ku memilih cover yg berbahan kertas asturo. "Pak, jilid makalah" kataku, "tapi pake kertas yang warna kayak gini" sambil menujuk sampel kertas berwarna seperti kulit tokoh kartun Sponge Bob. Tanpa menunggu lama, Bapak petugas foto copy tersebut langsung menjilid paperku. "Aduh mas, kertas nya gak ada yang kayak gitu. Adanya kuning biasa," kata bapaknya. "Hmmmm.... yaudah pak, gak papa", jawabku. "Daripada pake plastik mika," gumamku dalam hati, "aduh ini tahun berapa? masa' masih pake plastik mika". Seandainya aku dilahirkan dari keluarga konglomerat, mungkin paperku juga saya laminating. Namun apa daya, jilid cover inipun juga saya paksakan karena hasil kerja instant. Paper tugas Translation kemarin saja tidak saya jilid. Jangankan jilid, cover depan pun juga tidak saya beri. Prinsip saya adalah, kalo kita tidak yakin dengan kualitas kerja kita, maka manfaatkan potensi lain dari kerja kita, yaitu jilid tugasmu dengan rapi. Ya, walaupun 100% tidak sepenuhnya benar sih. Buktinya teman saya tadi pagi komplain dengan statement saya ini. Tugas translation dia tidak mendapatkan nilai A dengan embel- embel minus di depannya padahal sudah bersusah payah dijilid plastik mika plus cover depan. Sedangkan paper translation saya tanpa jilid dan cover depan mendapatkan nilai di atas paper dia.

Lima menit kemudian paperku sudah berubah wujud dari sekor cacing menjadi seekor kupu- kupu. Tanpa menunggu lama- lama, kusodorkan uang Rp. 5000,-. Dan bapak itu mengembalikanku dengan uang receh senilai Rp. 2500,-. Itulah sebabnya kenapa ku suka berlangganan jilid buku disini. Semuanya harga mahasiswa. Harga jilid buku dengan menggunakan plastik mika maupun kertas asturo sama saja. Ya mending pake kertas aja. Lebih tampak seperti buku.

Ku melaju dengan motorku dengan kecepatan 20 KM. Maklum disana adalah jalan milik kampus yang pernah saya tempati untuk menuntut ilmu selama 10 semester. Syukur karena saya bisa keluar dalam waktu 10 semester, karena beberapa teman seangkatanku dulu sampai sekarang masih ada disana bahkan beberapa gerombolan seniorku juga masih setia ngangkring di depan jurusan menunggu dosen pembimbing seperti layaknya wartawan yang ingin mewawancara informannya. Syukur- syukur kalo bisa ketemu pada waktu itu. Kalo tidak, anda harus datang hari berikutnya dan seterusnya hingga anda betul- betul bertemu dengan yang anda kejar. Kalo ketemu, syukur-syukur kalo dosennya mau bimbingan. Kalo dosennya berkenan membimbing, syukur- syukur tidak banyak mahasiswa yang mengantri. Misalkan ada 15 orang yang mengantri, sudah dipastikan yang urutan 7 ke atas siap- siap melakukan strategi yang pertama “ketemu pada lain kesempatan”. Yah, yang namanya dosen adalah manusia tersibuk di atas muka bumi ini. Sibuk ngajar, sibuk seminar, sibuk koreksi tugas- tugas siswa, sibuk ngurus anak, istri, dan lain- lainnya. Pendek kata, apapun yang dilakukannya pasti ada kata ‘sibuk’. Hingga saking sibuknya, sering saya menemukan dosen pembimbing yang sibuk ngotak atik lembaran-lembaran kertas dan di depan meja beliau ada kertas yang bertuliskan “No consultation today, please”. Kalo sudah seperti itu, tanpa basa basi.hal yang dapat dilakukan mahasiswa adalah “balik kanan maju, jalan” ke arah pintu keluar ruang dosen.  Jadi intinya, bimbingan skripsi itu adalah gambling. Iseng- iseng berhadiah. Jadi, kalo ada mahasiswa yang telat selesai, jangan langsung menghakimi mahasiswa tersebut ‘malas’ pemirsa. Tapi banyak kemungkinan. Karena faktor dosen seperti pembimbingnya susah ditemuin, pembimbingnya suka memberikan kriteria penelitian seperti Roro Jongrang. Ataupun bisa juga dari faktor mahasiswa itu sendiri seperti sibuk cari judul penelitian, sibuk gonta- ganti judul penelitian, sibuk manipulasi data, sibuk cari subject penelitian, sibuk cari responden, sibuk ngurus pacar, sibuk memotivasi diri tuk bimbingan, sibuk memperbaiki nilai karena mengejar comlaude hingga belasan semester, sibuk mempertebal muka tuk bimbingan karena dosen sering mengatakan mahasiswa bego, dan sok sibuk sibuk lainnya.

Aduh, gara- gara curcol masa- masa skripsi hampir telat dah ke kampus. Ketika sampai dikampus, seperti biasa, tiap hari rabu ketika saya sampai diparkiran motor, parkiran motor masih sepi sehingga saya bebas dan leluasa memilih lahan parkir mana saja, mumpung gratis alias sudah satu paket sama SPP. Ku melangkah santai menuju ruang kelas yang pada saat itu masih pukul 7.40 pagi.Kuintip ruang kelas perlahan-lahan. Tampak pak dosen sedan duduk santai mengotak-atik laptopnya. Kuarahkan pandanganku ke arah samping kanan pak dosen. Aduh, predikat mahasiswa pertama masuk kelas minggu ini bukan aku. Padahal biasanya saya adalah mahasiwa pertama. “Yah, wajar saja dia yang pertama masuk kelas pagi ini, karena hari ini dia yang presentasi,” gumamku menyemangati diri.

Ku memilih duduk di kursi paling tengah dari sederetan kursi yang berbentuk formasi tapak kuda tersebut. Satu persatu teman sekelasku pun mulai berdatangan. “Hai, gimana semalam? Tidur gak?” tanya temanku sambil mengambil kursi disamping kananku. “Tidur dunk, kubangun jam 5, trus tidur lagi. Bis itu bangunnya jam 7” jawabku sambil tertawa lebar. “Mba’ nya gimana? Tidur gak?”, tanyaku. “Tidur dong. Eh liat dong papermu” pintanya. “Nih,” jawabku dengan bangga sambil menyodorkan paper warna kuning pucat. “Wah, tebel ya. Berapa halaman neh?”. “Lima belas halaman dengan appendix” jawabku singkat. Tatkala dibukanya satu persatu, pada lembaran ke 6, ku melihat sesuatu yang aneh pada paperku. Ada gambar kop surat dan logo institusiku pada saat S1 kemarin. “Mba’ wait” pintaku sambil menarik kembali paperku. “Mampus, lembaran kelimanya pake kertas bekas yang terselip ditumpukan kertas rasaku mba’”, jawabku sambil memelas. Betapa putus asanya aku ketika kutemukan paper ku yang cantik dengan cover seharga Rp. 2500,- terselip satu lembar kertas yang merupakan kertas daur ulang. Ini ibarat pengantin yang sudah didandan cantik siap untuk duduk bersanding dengan mempelai, namun ternyata memakai sandal jepit bekas.

Kelas sudah dimulai. Dosen telah meminta dua presenter kami pada pagi itu untuk memulai presentasinya. Namun ku masih sibuk memutar otak untuk menemukan solusi yang terbaik buat paperku ini. Kukeluarkan kertas foto copian bahan presentasi Matakuliah Terjemahan kemarin, dan kulepaskan satu lembar dari jepitan staplesnya. Kucoba selipkan kertas tersebut pada bagian belakang halaman lima paperku dengan posisi lembaran polosnya menghadap ke lembar ke 6. “Hmm.... lumayan, gak keliahatan kok”, gumamku dalam hati. Tinggal mencari silet atau gunting tuk merapikan ujung kertas yang mencuat dan lem kertas tuk merekatkan selipan kertas tersebut agar tidak ketahuan. Ku menyebarkan pandangan ke seantaro kelas mencari teman yang sering membawa disgrip besar. Sapa tau aja dia bawa gunting atau silet. Mataku terperangkap pada salah seorang temanku yang lagi asyik menata- nata papernya yang masih belum terseples. Kuliaht dia memegang beberapa lembaran kertas rasa yang sering dia bawa tuk persiapan ketika dia butuh. “Ehm, eh, bisa minta kertasnya selembar tidak?” pintaku dengan halus melebihi halusnya rambut kalo habis dismoothing. Dengan senang hati dia memberikan selembar kertas yang kuminta. Tinggal mencari gunting dan lem saja, kecemasanku bakal berahir. Satu persatu temanku kutanya perihal benda- benda tersebut. “Neh, ada,” jawabnya sambil menyodorkan pisau silet, “tapi ku gak punya lem”. “Nih aku punya lem kertas,” celoteh temanku yang satunya lagi disela- sela presenter sedang semangat- semangatnya memberikan presentasi. “Tapi lem nya ke enceran je,” lanjutnya. “Iya, gak papa. Asalkan bisa dipake” jawabku. Kurapikan kertas yang tidak rapi tersebut dengan menggunakan pisau silet tadi. Setelah rapi, kemudian kutekan tabung lem secara perlahan, ku arahkan pada sudut-sudut kertas agar mereka melekat satu sama lain. Dan hasilnya seperti uang kertas yang basah kuyup gara- gara terkena tumpahan teh. “Untung cuman satu sisi saja yang saya beri lem” gumamku dalam hati. “Gimana man? Jadi gak?” tanya temanku. Ku hanya memperlihatkan hasil lem kertas tersebut. “Udah dikandani ngeyel sih kau,” katanya sambil tertawa seperti Medusa. Tanpa mengucap sepatah katapun, aku keluar dari ruang kelas sambil membawa paperku tersebut. Ku melangkah naik melewati anak tangga menuju Perpustakaan Pasca yang berada di lantai 2 gedung kuliah tersebut dengan harapan menemukan lem disana. Walhasil, usahaku tidak sia- sia. Degan cekatan kulem bagian- bagian yang perlu dilem. Beberapa menit kemudian paperku sudah selesai kupermak ulang. Hasilnya lumayan.

Kumelangkah turun menuju ruang kelas. “Gimana man? Wes dadi rung?” tanya temanku. “Udah dong, neh coba liat,” jawabku sambil menyodorkan paperku. Dibukanya perlahan-lahan paperku sambil mencari kertas bekas tadi. Tiga kali dia menerka kertas bekas tersebut namun salah. Ahirnya kutunjukkan kertas yang sudah kupermak tadi. “Wah, keren Man” puji dia. “Secara mba’, pengalaman kerja di tempat foto kopian selama empat tahun e,” gurauku. Ahirnya tugas paper ku dapat saya kumpulkan dengan lega menjelang berahirnya kuliah pagi ini. Terlepas dari permasalahan kontent yang belum kuyakini benar 100 %., ya, minimal tuk tataran formal paperku sudah layak kumpul. Tinggal menunggu mukjisat dari tuhan atas karya Titisan Bandung Bondwoso.

Yogyakarta, Wisma Bawakaraeng 18 April 2013

Tidak ada komentar: