Translate

Senin, 02 Oktober 2017

Fluency Vs Accuracy

Teringat akan sebuah pertanyaan mahasiswa saya di hari Sabtu kemarin. Awalnya ku mengira pertanyaannya sangat berkaitan dengan topik yang dibahas. Namun ternyata agak sedikit bergeser ke ranah yang berbau teoritis.
Mahasiswa tersebut tampak bingung, katanya dosen A mengatakan apabila kamu berbicara, maka lupakanlah structure, karena structure merupakan penghambat kelancaran speakingmu. Speakingmu terhambat karena kamu terlalu lama memikirkan tata bahasa. Sedangkan dosen B menyarankan sebaliknya. Kamu harus menggunakan structure, bahasamu susah dimengerti ketika bahasamu tak patuh kepada tata bahasa. Kurang lebih seperti itulah yang ia tanyakan.
Yah, dua kubu tersebut merupakan istilah lama. Fluency atau accuracy yang harus diutamakan. Ya, sebagai seorang pengajar, tentunya saya tidak mungkin memprioritaskan satu di atas yang lainnya. Karena bahasa merupakan bagian yang sistematis yang saling melengkapi satu dan lainnya. Saya tak bisa menyarankan mahasiswa saya focus kepada fluency dan mengabaikan accuracy, yang mana mengakibatkan dia seperti mengigau. Bahasa toddler pun lebih mudah dimengerti dari bahasanya. Begitu pula sebaliknya, mereka tidak boleh mengabaikan fluency, karena lawan bicara kita akan meninggalkan kita karena terlalu lama mikir, dan membuang waktu menunggu lawan bicaranya berujar karena terlalu lama memikirkan tata bahasa.

Namun satu hal yang mungkin kebanyakan orang lupa, bahwasanya grammar juga memiliki fluency. Saya lupa dimana saya pernah membaca teori ini. Para native memiliki fluency grammar yang tinggi, karena mereka tak memikirkan lama-lama untuk mengujar kalimat dengan structure yang benar. Begitu pula kita sebagai pelajar bahasa asing, kita juga dapat memiliki fluency grammar.  Ambil salah satu contoh kecilnya, soal TOEFL. TOEFL Test Section II. Peserta diberikan waktu 25 menit untuk menjawab 40 soal structure. Kebayang kan, satu soal saja kita tidak boleh mengerjakannya lebih dari 30 detik, ketika lebih maka salah satu soal lainnya harus menjadi tumbal. Namun, apabila anda memiliki fluency yang baik terhadap structure, 40 soal tersebut kita dapat mengerjakannya dalam waktu 20 menit, bahkan 15 menit. Tergantung seberapa fluent anda dalam grammar. Peserta didikku sering berkomentar, sebenarnya saya bisa sir mengerjakannya. Teori-teorinya sudah semua dibahas. Tapi waktunya saja yang tak cukup. I need more time to answer the questions. Seandainya TOEFL Test tidak dibatasi waktu, saya yakin banyak orang yang akan mendapatkan score TOEFL Section II 670. Well, tentunya fluent itu tak bisa terbentuk tanpa drilling. Iya, drilling mengerjakan soal-soal structure. Selamat ber drilling pemirsa.