Translate

Kamis, 18 September 2008

URGENSI AKHLAK DALAM PERGAULAN


Akhlak merupakan cermin dari pribadi seseorang. Dari akhlak kita dapat menilai pribadi seseorang. Orang yang cenderung bersifat kasar sesama teman dapat dikategorikan memiliki karakter pribadi yang keras dan tidak ramah. Sedangkan orang yang memiliki sifat yang lemah lembut dapat dikatakan memiliki pribadi yang penyayang dan penuh kasih sayang. Hal ini memiliki peran yang sangat penting dalam nasib pergaulan kita baik dari segi kwantitas teman yang bakalan kita miliki dan kenyamanan dalam persahabatan yang kita jalani.

Orang yang cenderung memiliki akhlak yang kurang baik mungkin saja memiliki banyak teman. Akan tetapi coba kita lihat, apakah kualitas persahabatannya bagus atau buruk? Jawabannya tentu buruk. Kalaupun bagus, itu tampak luarnya saja. Di dalamnya penuh dengan kebohongan, kemunafikan dan kedustaan belaka. Siapa yang aman dan tentram berlama-lama dengan orang yang berperangai kasar dan buruk? Kecuali mereka yang memiliki kepentingan dan kebutuhan darinya. Setelah keinginan mereka tercapai, maka seketika itu pula mereka meninggalkannya karena dibalik itu hanyalah kepura-puraan belaka. Persahabatannya tidak dapat bertahan lama.

Namun coba lihat orang yang memiliki akhlak yang mulia. Siapa yang berada di sekelilingnya? Merekalah orang-orang yang merasa aman dan nyaman berada di samping orang yang berakhlak mulia. Mereka tidak menuntut apa-apa kecuali menuruti insting alamiah mereka sebagaai manusia untuk mencari zona yang aman, zona yang tidak memberi mudarat bagi mereka. Di dalam kitab Irsyadul I’bad dilkatakan bahwa persahabatan itu laksana dua buah profesi. Yaitu pandai besi dan penjual minyak wangi.

Ketika bersahabat dengan orang yang berakhlak buruk, laksana kita bersama dengan seorang pandai besi. Kalau pakaian atau kulit kita tidak terkena percikan api dari hasil timpahan besi panas, minimal kita mersakan asap yang cukup membuat kita sesak. Begitulah adanya ketika kita bersahabat dengan orang yang berperangai buruk. Kalau kita tidak dilibatkan langsung dengan kasus-kasus yang ditimbukannya, minimal kita dapat merasakan tajamnya ucapan-ucapaannya atau perlakuan kasarnya kepada orang lain yang cukup membuat kita iba dengan orang yang dizolimi itu. Mungkin hari ini adalah orang lain akan tetapi kemungkinan besok kitalah yang menjadi objek keburukannya.

Orang yang berakhlak mulia laksana seorang penjual minyak wangi. Kalau kita tidak dapat mencoba minyak wangi tersebut, minimal kita dapat turut merasakan aroma harum dari minyak wangi tersebut. Begitu pula halnya ketika kita bersahabat dengan orang yang berakhlak baik. Kalau kita tidak dapat meniru akhlaknya, minimal kita dapat merasakan tutur bahasa dan sopan santunnya kepada kita. Maka yang muncul adalah perasaan aman dan tentram berada bersamanya.

Di dalam pergaaulan terdapat berbagai macam pertimbangan dan alasan. Ada orang yang bergaul kerena prestise semata. oleh karenanya dia hanya maul bergaul dengan anak konglomerat, pejabat, bangsawan dan kalangan-kalangan high-class laainnya dengan tujuan dapat mendongkrak prestisenya di hadapan orang lain. Oleh karenanya, berhati-hatilah dalam memilih teman. Karena teman itu memiliki peran yang cukup signifikan dalam mewarnai proses hidupmu di dunia bahkan di akhirat kelaak.

Rabu, 11 Juni 2008

Kenangan Berada di Penjara Suci Sengkang

Beribu-ribu orang yang datang dari berbagai penjuru nusantara Indonesia ke kota sutra ini hanyalah untuk menimba ilmu agama Islam. Faktor inilah yang menjadikan kota ini dijuluki kota santri. Santri yang datang ke sini dibarengi dengan berbagai macam alasan dan motivasi. Ada yang datang karena kehendak diri sendiri ingin menjadi orang yang cakap dalam ilmu-ilmu agama, adapula yang datang karena alasan ekonomi yang memang notabenenya pondok pesantren ini termasuk biaya pendidikannya lumayan murah letimbang podok-pondok pesantren moderen yang bermunculan di Sulawesi Selatan dengan menawarkan berbagai macam jaminan intelektual Islam yang seimbang dengan tehnologi yang tentunya anda juga harus menginfakkan sebagian penghasilan anda sebagai seorang petani selama setahun hanyalah untuk mendapatkan output santri yang cakap agama dan tehnologi. Disamping itun adapula santri yang datang karena memang keinginan orang tua yang kewalahan menagani akhlak anaknya yanmg sudah sangat kelewat batas. Dan salah satu santri itu adalah aku.

Dari Sulwesi Tenggara tepatnya kabupaten Kolaka saya berasal dan hijrah ke kota suci ini pada tahun 1999. Pertama kali datang ke kota ini, saya diantar oleh ayah saya. Saya langsung dibawah dan di tempatkan di rumah salah seorang ustadz di pondok pesantren. Pada saat itu, jumlah para penghuninya hanya 4 orang termasuk saya. Lukman, Masyudi, dan Herwadi. Meskipun jarak tempat tinggal saya agak jauh dari kompleks pesantren, akan tetapi hal ini tidak membuatku kapok untuk berangkat mengaji pada saat waktu magrib dan subuh. Hal ini dikarenakan saya tidak cuma sendirtian. Saya selalu berangkat bersama-sama teman-teman se rumah. Meskipun kadang kala saya berangkat sendirian dikarenakan waktu shalat yang sangat mepet sehingga tidak mungkin bagi saya untuk menunggu mereka.

Rutnitas saya setiap hari serasa monoton. Bangun pagi-pagi sekali trus berangkat ke Masjd Al Ikhlas Lapongkoda untuk mengikuti pengajian subuh. Setelah itu kembali ke pemondokan untuk mandi, memasak, sarapan, trus langsung berangkat lagi ke kompleks untuk mengikuti pelajaran formal. Dikarenakan jarak kompleks dengan pemondokan tidak terlalu dekat, kurang lebih 15 s/d 25 ment perjalanan, kadang kala membuatku tidak sempat masak bahkan sarapan. Sehabis jam belajar formal, tepatnya jam 2 siang, saya harus kembali ke pemondokan untuk mempersiapkan diri ke sekolah Arab yang jam mulai belajarnya 2.30. Uh…. Cuapek benar. Saya harus mengikuti pelajaran di sekolah Arab sampai waktu ashar. Sehabis itu saya kembali ke pemondokan untuk mempersiapkan diri untuk mengikuti pengajian magrib di masjid Al Ikhlas. Lima belas menit sebelum azan magrib saya harus sudah meninggalkan pemondokan. Kalau tidak maka saya harus masbuk. Saya berada di masjid ini sampai waktu Isya. Selepas waktu Isya saya langsung bergegas pulang ke pemondokan untuk masak makan malam.

Cobalah bayangkan, dalam sehari saya harus bolak-balik pemondokan- kampus( Bulu Pabbulu- Lapongkoda) sebanyak empat kali. Padahal jarak antara satu dengan yang lainnya itu memakan waktu 15 s/d 25 menit.

Inilah Aku

Setelah suara azan ashar menggema, menandakan panggilan ilahi untuk melakksanakan panggilan sucinya, seorang bayi mungil dan lucu tanpa busana dalam keadaan menagis keluar dari rahim seorang ibu yang bersuamikan Suardi Sultani yang berdarah bugis Bone, itulah aku’Karman’. Di tanah orang berkulit hitam yang sering memainkan alat musik Sasando dan gemar memelihara kadal raksasa aku dilahirkan. “Tanpa saudara” label yang menghiasiku selama ini. Entah kapan aku dapat menaggalkan label ini. Entah besok, lusa, setahun lagi, atau tidak untuk selama-lamanya.

Pada masa kanak-kanak, aku selalu dekat dengan ibu. Beliaulah yang selalu merawatku, melindungiku, mengawasiku dari setiap bahaya semenjak aku kecil. Aku sering bergaul dan bermain dengan sepupu-sepupuku yang notabenenya mayoritas wanita (Bukan berarti tidak ada laki-lakinya lho?). Sebenarnya saya lebih suka bergaul dengan anak-anak tetangga yang sehabis sekolah keluyuran ke kampung sebelah bermain kelereng, bola, bodernama, dll dan pulang pada saat petang dengan keadaan tubuh bau keringat beserta sedikit tanah kering yang menempel di baju saya. Tanpa berucap dan omelan ibu langsung menarik lengan saya, ditanggalkannya semua pakaian kotor saya dan dimandikannya hingga bersih. Hal ini terus berulang-ulang hingga aku meninggalkan tanah kelahiranku menuju daerah asal kedua orang tuaku. Saya rasa keadaan inilah yang membentuk karakter seorang Karman.

Hidup di tengah-tengah orang non-muslim aku rasakan selama 11 tahun. Aku tidak pernah merasa dideskriminasikan baik dari segi pergaulan, pendidikan, ekonomi, dan yang lainnya. TK Kristen Imanuel, itulah tempat pertama kali secara formalitas aku mengenyamnya. Akulah satu-satunya nurid yang beragama Islam di sana. Senang bisa belajar di sana yang ahirnya dapat saya jadikan pembanding dan pengalaman untuk hidupku masa depan.

Ketika genap sudah usiaku 6 tahun, maka orang tuaku bergegas memasukkanku ke SD Impres Naikoten 1. di sabna

11 tahun aku diasuh di bawah asuhan kedua orang tua, kemudian di serahkan di sebuah institusi agama guna memperbaiki akhlakku selama 6 tahun. Setelah itu, barulah aku menentukan arah hidupku sendiri.

Sudah banyak hal yang aku lalui, baik itu senang ataupun duka. Perlakuan kasar dari orang disekitarku, bahkan sebagian orang mencelaku karena suatu hal yang dianggapnya penyelewengan kodrat Allah. Padahal hal itu merupakan kehendak yang di atas. Ini bagi saya merupakan pemberian dari yang di atas. Apa boleh buat, seandainya saya diberi pilihan, tentunya saya akan memilih yang betul-betul perfect.

Menurut buku psikology, aku termasuk orang yang abnormal. Dari sinilah, banyak orang mengatakan aku aneh. Akan tetapi aku malah berbalik tanya, yang aneh dia atau aku? Tidakkah dia tahu bahwa manusia diciptakan dengan keadaan berbeda? tidak ada satupun yang sama. Baik fisik, pola pikir, karakter, dan masih banyak lagi. Apakah karena hal yang aku alami ini tidak ia alami maka aku dikatakannya aneh? Tidakkah dia mengetahui bahwasanya terdapat sekian banyak orang di luar sana yang mengalami hal serupa seperti yang aku alami? Kapan sesuatu itu dikatakan aneh? Apakah karena berbeda dengan hal yang ada pada diri sang observator? Meskipun sebagian orang mengalami hal itu? Cobalah teman berikan pendapatmu sehingga dapat menghilangkan kesangsianku akan hal ini.

Urgensi Akhlak Karimah dalam Pergaulan

Akhlak merupakan cermin dari pribadi seseorang. Dari akhlak kita dapat menilai pribadi seseorang. Orang yang cenderung bersifat kasar sesama teman dapat dikategorikan memiliki karakter pribadi yang keras. Sedangkan orang yang memiliki sifat yang lemah lembut dapat dikatakan memiliki pribadi yang penyayang dan penuh kasih sayang. Hal ini memiliki peran yang sangat penting dalam nasib pergaulan kita baik dari segi jumlah teman dan kenyamanan persahabatan.

Orang yang cenderung memiliki akhlak yang kurang baik mungkin saja memiliki banyak teman. Akan tetapi coba kita lihat, apakah kualitas persahabatannya bagus atau buruk? Jawabannya tentu buruk. Kalaupun bagus, itu tampak luarnya saja. Di dalamnya penuh dengan kebohongan dan kedustaan. Siapa yang aman dan tentram berlama-lama dengan orang yang berperangai kasar dan buruk? Kecuali mereka yang memiliki kepentingan dan kebutuhan darinya. Setelah keinginan mereka didapatkan, maka seketika pula mereka meninggalkannya karena dibalik itu hanyalah kepura-puraan belaka. Persahabatannya tidak dapat bertahan lama.

Namun coba lihat orang yang memiliki akhlak yang mulia. Siapa yang berada di sekelilingnya? Merekalah orang-orang yang merasa aman dan nyaman berada di samping orang yang berakhlak mulia. Mereka tidak menuntut apa-apa kecuali menuruti insting alamiah mereka untuk mencari zona yang aman, zona yang tidak memberi mudarat bagi mereka. Di dalam kitab Irsyadul I’bad dilkatakan bahwa persahabatan itu laksana dua buah profesi. Yaitu pandai besi dan penjual minyak wangi.

Ketika bersahabat dengan orang yang berakhlak buruk, laksana kita bersama dengan seorang pandai besi. Kalau pakaian atau kulit kita tidak terkena percikan api dari hasil timpahan besi panas, minimal kita mersakan asap yang cukup membuat kita sesak. Begitulah adanya ketika kita bersahabat dengan orang yang berperangai buruk. Kalau kita tidak dilibatkan langsung dengan kasus-kasus yang ditimbukannya, minimal kita dapat merasakan tajamnya ucapan-ucapaannya atau perlakuan kasarnya kepada orang lain yang cukup membuat kita iba dengan orang yang dizolimi itu. Mungkin hari ini adalah orang lain akan tetapi kemungkinan besok kitalah yang menjadi objek keburukannya.

Orang yang berakhlak mulia laksana seorang penjual minyak wangi. Kalau kita tidak dapat mencoba minyak wangi tersebut, minimal kita dapat turut merasakan aroma harum dari minyak wangi tersebut. Begitu pula halnya ketika kita bersahabat dengan orang yang berakhlak baik. Kalau kita tidak dapat meniru akhlaknya, minimal kita dapat merasakan tutur bahasa dan sopan santunnya kepada kita. Maka yang muncul adalah perasaan aman dan tentram berada bersamanya.

Di dalam pergaaulan terdapat berbagai macam pertimbangan dan alasan. Ada orang yang bergaul kerena prestise semata. makanya dia hanya maul bergaul dengan anak konglomerat, pejabat, bangsawan dan lain sebagainya dengan tujuan dapat meninggikan prestisenya di hadapaan orang lain.

Rabu, 07 Mei 2008

Welcome to My Blog


Assalamu Alaikum!
Hello my beloved brothers N sisters!
Welcome to my blog. It's ok for you to recognize me more by reading my writing in this blog. And I'm glad if you want to share yours also.
So, have a nice reading!