Setelah suara azan ashar menggema, menandakan panggilan ilahi untuk melakksanakan panggilan sucinya, seorang bayi mungil dan lucu tanpa busana dalam keadaan menagis keluar dari rahim seorang ibu yang bersuamikan Suardi Sultani yang berdarah bugis Bone, itulah aku’Karman’. Di tanah orang berkulit hitam yang sering memainkan alat musik Sasando dan gemar memelihara kadal raksasa aku dilahirkan. “Tanpa saudara” label yang menghiasiku selama ini. Entah kapan aku dapat menaggalkan label ini. Entah besok, lusa, setahun lagi, atau tidak untuk selama-lamanya.
Pada masa kanak-kanak, aku selalu dekat dengan ibu. Beliaulah yang selalu merawatku, melindungiku, mengawasiku dari setiap bahaya semenjak aku kecil. Aku sering bergaul dan bermain dengan sepupu-sepupuku yang notabenenya mayoritas wanita (Bukan berarti tidak ada laki-lakinya lho?). Sebenarnya saya lebih suka bergaul dengan anak-anak tetangga yang sehabis sekolah keluyuran ke kampung sebelah bermain kelereng, bola, bodernama, dll dan pulang pada saat petang dengan keadaan tubuh bau keringat beserta sedikit tanah kering yang menempel di baju saya. Tanpa berucap dan omelan ibu langsung menarik lengan saya, ditanggalkannya semua pakaian kotor saya dan dimandikannya hingga bersih. Hal ini terus berulang-ulang hingga aku meninggalkan tanah kelahiranku menuju daerah asal kedua orang tuaku. Saya rasa keadaan inilah yang membentuk karakter seorang Karman.
Hidup di tengah-tengah orang non-muslim aku rasakan selama 11 tahun. Aku tidak pernah merasa dideskriminasikan baik dari segi pergaulan, pendidikan, ekonomi, dan yang lainnya. TK Kristen Imanuel, itulah tempat pertama kali secara formalitas aku mengenyamnya. Akulah satu-satunya nurid yang beragama Islam di
Ketika genap sudah usiaku 6 tahun, maka orang tuaku bergegas memasukkanku ke SD Impres Naikoten 1. di sabna
11 tahun aku diasuh di bawah asuhan kedua orang tua, kemudian di serahkan di sebuah institusi agama guna memperbaiki akhlakku selama 6 tahun. Setelah itu, barulah aku menentukan arah hidupku sendiri.
Sudah banyak hal yang aku lalui, baik itu senang ataupun duka. Perlakuan kasar dari orang disekitarku, bahkan sebagian orang mencelaku karena suatu hal yang dianggapnya penyelewengan kodrat Allah. Padahal hal itu merupakan kehendak yang di atas. Ini bagi saya merupakan pemberian dari yang di atas. Apa boleh buat, seandainya saya diberi pilihan, tentunya saya akan memilih yang betul-betul perfect.
Menurut buku psikology, aku termasuk orang yang abnormal. Dari sinilah, banyak orang mengatakan aku aneh. Akan tetapi aku malah berbalik tanya, yang aneh dia atau aku? Tidakkah dia tahu bahwa manusia diciptakan dengan keadaan berbeda? tidak ada satupun yang sama. Baik fisik, pola pikir, karakter, dan masih banyak lagi. Apakah karena hal yang aku alami ini tidak ia alami maka aku dikatakannya aneh? Tidakkah dia mengetahui bahwasanya terdapat sekian banyak orang di luar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar