Translate

Rabu, 11 Juni 2008

Urgensi Akhlak Karimah dalam Pergaulan

Akhlak merupakan cermin dari pribadi seseorang. Dari akhlak kita dapat menilai pribadi seseorang. Orang yang cenderung bersifat kasar sesama teman dapat dikategorikan memiliki karakter pribadi yang keras. Sedangkan orang yang memiliki sifat yang lemah lembut dapat dikatakan memiliki pribadi yang penyayang dan penuh kasih sayang. Hal ini memiliki peran yang sangat penting dalam nasib pergaulan kita baik dari segi jumlah teman dan kenyamanan persahabatan.

Orang yang cenderung memiliki akhlak yang kurang baik mungkin saja memiliki banyak teman. Akan tetapi coba kita lihat, apakah kualitas persahabatannya bagus atau buruk? Jawabannya tentu buruk. Kalaupun bagus, itu tampak luarnya saja. Di dalamnya penuh dengan kebohongan dan kedustaan. Siapa yang aman dan tentram berlama-lama dengan orang yang berperangai kasar dan buruk? Kecuali mereka yang memiliki kepentingan dan kebutuhan darinya. Setelah keinginan mereka didapatkan, maka seketika pula mereka meninggalkannya karena dibalik itu hanyalah kepura-puraan belaka. Persahabatannya tidak dapat bertahan lama.

Namun coba lihat orang yang memiliki akhlak yang mulia. Siapa yang berada di sekelilingnya? Merekalah orang-orang yang merasa aman dan nyaman berada di samping orang yang berakhlak mulia. Mereka tidak menuntut apa-apa kecuali menuruti insting alamiah mereka untuk mencari zona yang aman, zona yang tidak memberi mudarat bagi mereka. Di dalam kitab Irsyadul I’bad dilkatakan bahwa persahabatan itu laksana dua buah profesi. Yaitu pandai besi dan penjual minyak wangi.

Ketika bersahabat dengan orang yang berakhlak buruk, laksana kita bersama dengan seorang pandai besi. Kalau pakaian atau kulit kita tidak terkena percikan api dari hasil timpahan besi panas, minimal kita mersakan asap yang cukup membuat kita sesak. Begitulah adanya ketika kita bersahabat dengan orang yang berperangai buruk. Kalau kita tidak dilibatkan langsung dengan kasus-kasus yang ditimbukannya, minimal kita dapat merasakan tajamnya ucapan-ucapaannya atau perlakuan kasarnya kepada orang lain yang cukup membuat kita iba dengan orang yang dizolimi itu. Mungkin hari ini adalah orang lain akan tetapi kemungkinan besok kitalah yang menjadi objek keburukannya.

Orang yang berakhlak mulia laksana seorang penjual minyak wangi. Kalau kita tidak dapat mencoba minyak wangi tersebut, minimal kita dapat turut merasakan aroma harum dari minyak wangi tersebut. Begitu pula halnya ketika kita bersahabat dengan orang yang berakhlak baik. Kalau kita tidak dapat meniru akhlaknya, minimal kita dapat merasakan tutur bahasa dan sopan santunnya kepada kita. Maka yang muncul adalah perasaan aman dan tentram berada bersamanya.

Di dalam pergaaulan terdapat berbagai macam pertimbangan dan alasan. Ada orang yang bergaul kerena prestise semata. makanya dia hanya maul bergaul dengan anak konglomerat, pejabat, bangsawan dan lain sebagainya dengan tujuan dapat meninggikan prestisenya di hadapaan orang lain.

Tidak ada komentar: