Beribu-ribu orang yang datang dari berbagai penjuru nusantara Indonesia ke kota sutra ini hanyalah untuk menimba ilmu agama Islam. Faktor inilah yang menjadikan kota ini dijuluki kota santri. Santri yang datang ke sini dibarengi dengan berbagai macam alasan dan motivasi. Ada yang datang karena kehendak diri sendiri ingin menjadi orang yang cakap dalam ilmu-ilmu agama, adapula yang datang karena alasan ekonomi yang memang notabenenya pondok pesantren ini termasuk biaya pendidikannya lumayan murah letimbang podok-pondok pesantren moderen yang bermunculan di Sulawesi Selatan dengan menawarkan berbagai macam jaminan intelektual Islam yang seimbang dengan tehnologi yang tentunya anda juga harus menginfakkan sebagian penghasilan anda sebagai seorang petani selama setahun hanyalah untuk mendapatkan output santri yang cakap agama dan tehnologi. Disamping itun adapula santri yang datang karena memang keinginan orang tua yang kewalahan menagani akhlak anaknya yanmg sudah sangat kelewat batas. Dan salah satu santri itu adalah aku.
Dari Sulwesi Tenggara tepatnya kabupaten Kolaka saya berasal dan hijrah ke kota suci ini pada tahun 1999. Pertama kali datang ke kota ini, saya diantar oleh ayah saya. Saya langsung dibawah dan di tempatkan di rumah salah seorang ustadz di pondok pesantren. Pada saat itu, jumlah para penghuninya hanya 4 orang termasuk saya. Lukman, Masyudi, dan Herwadi. Meskipun jarak tempat tinggal saya agak jauh dari kompleks pesantren, akan tetapi hal ini tidak membuatku kapok untuk berangkat mengaji pada saat waktu magrib dan subuh. Hal ini dikarenakan saya tidak cuma sendirtian. Saya selalu berangkat bersama-sama teman-teman se rumah. Meskipun kadang kala saya berangkat sendirian dikarenakan waktu shalat yang sangat mepet sehingga tidak mungkin bagi saya untuk menunggu mereka.
Rutnitas saya setiap hari serasa monoton. Bangun pagi-pagi sekali trus berangkat ke Masjd Al Ikhlas Lapongkoda untuk mengikuti pengajian subuh. Setelah itu kembali ke pemondokan untuk mandi, memasak, sarapan, trus langsung berangkat lagi ke kompleks untuk mengikuti pelajaran formal. Dikarenakan jarak kompleks dengan pemondokan tidak terlalu dekat, kurang lebih 15 s/d 25 ment perjalanan, kadang kala membuatku tidak sempat masak bahkan sarapan. Sehabis jam belajar formal, tepatnya jam 2 siang, saya harus kembali ke pemondokan untuk mempersiapkan diri ke sekolah Arab yang jam mulai belajarnya 2.30. Uh…. Cuapek benar. Saya harus mengikuti pelajaran di sekolah Arab sampai waktu ashar. Sehabis itu saya kembali ke pemondokan untuk mempersiapkan diri untuk mengikuti pengajian magrib di masjid Al Ikhlas. Lima belas menit sebelum azan magrib saya harus sudah meninggalkan pemondokan. Kalau tidak maka saya harus masbuk. Saya berada di masjid ini sampai waktu Isya. Selepas waktu Isya saya langsung bergegas pulang ke pemondokan untuk masak makan malam.
Cobalah bayangkan, dalam sehari saya harus bolak-balik pemondokan- kampus( Bulu Pabbulu- Lapongkoda) sebanyak empat kali. Padahal jarak antara satu dengan yang lainnya itu memakan waktu 15 s/d 25 menit.