Translate

Selasa, 19 Juni 2018

Air Beriak di Sudut Utara Kota Kolaka


Hari itu tepat hari Ahad tanggal 1 Syawal 1439H. Masih dalam suasana Ied Fitri. Pagi itu sekitaran jam 9.00 pagi hari saya meninggalkan rumah sendirian. Bukan karena pengen sendirian, tapi karena memang belum menemukan partner in crime yang sehati untuk bepergian kemana-mana. Kalau waktu kuliah di Jogja mah, pasti ada saja partner in crime yang siap 24 jam diangkut kemana saja.

Sebelum meninggalkan rumah, ku tak lupa mengeset pengukur jarak motorku ke posisi Nol. Sebenarnya belum pasti mau kemana. Namun ku tetap saja mantap ingin keluar rumah, nanti dalam perjalanan baru difikirkan mau kemana. Dibenakku ada 2 tempat yang ingin ku kunjungi, yaitu Hutan Pinus Sorombipi di Kolaka Timur dan TWA Kea- Kea Mangolo. Namun, tepat di pertigaan Sabilambo, ku memutuskan untuk ke Kea- Kea saja, karena Sorombipi lumayan jauh dan saya adalah tipikal orang yang tidak bisa berkendara lama sendirian. Selain itu, destinasi ini sudah lama ingin sekali saya kunjungi bersama teman-teman, namun tak ada yang keturusan karena itu semua hanya planning.

Jalanan di Kolaka pada saat itu cukup lengang. Sangat sedikit kendaraan yang lalu lalang. Kebanyakan adalah pengendara motor yang berusia remaja serta mobil pick up yang dipenuhi penumpang liar yang tampaknya mereka ingin berekreasi, entah ke Kea-Kea ataupun beberapa destinasi wisata laut yang ada di Kolaka.

Karena saya tidak mengetahui lokasi yang ingin saya tuju, maka satu-satunya cara adalah menguntiti gerombolan motor yang memiliki ciri-ciri akan ke Kea- Kea. Kurang lebih 7km ke arah utara Kolaka, tibalah saya di pertigaan yang mengarah ke Kelurahan Ulunggolaka, Kec. Latambaga. Kupun berbelok kearah kanan. Lima KM jalanannya mulus beraspal. Namun setelah itu, maka kita akan menemukan jalanan yang sementara mengalami pengerasan, berbatu. Namun tenang saja jalanannya masih aman untuk dilalui kendaraan. Jalanan yang mengalami pengerasan ini berjarak 5 KM menuju lokasi Wisata Kea-Kea. Jadi, kalau ingin dihitung, jarak lokasi Wisata Kea-Kea dari Kota Kolaka adalah kurang lebih 17 KM.

Hal yang perlu dicatet, kondisi jalanan yang mengalami pengerasan ini (Non-Aspal) ada yang menanjak dan ada yang menurun. So, pastikan kendaraan anda memiliki kampas rem yang cukup. Bagi yang berkendara roda dua, sebaiknya menyediakan masker (penutup mulut dan hidung loh ya, bukan masker bengkoang untuk wajah) karena disepanjang jalan anda akan bermandikan abu dan debu. Namun sekali lagi, tenang saja, kondisi jalanannya aman serta lumayan cukup untuk dilewati kendaraan roda 4 apabila sedang berpas-pasan. Namun, karena saya bukanlah seorang biker sejati, tangan saya merah dan pegal gara-gara harus menahan goncangan stir serta menekan pedal koplin dan rem untuk mengatur laju kendaraan pada saat turunan dan tanjakan.


Di pos jaga, kurang lebih 1 KM sebelum lokasi permandian, maka anda akan dikenakan tarif Rp. 5000 per kepala orang dewasa. Sedangkan anak-anak tidak dikenakan tarif sama sekali. So, bagi kalian yang bertubuh mungil, bisa coba-coba mengaku anak- anak. Siapa tahu anda tidak dikenakan tarif masuk karena disangka anak-anak. Itu baru masuk lokasi Wisata. Apabila anda membawa kendaraan roda 2, maka akan dikenakan tarif parkir sebesar Rp. 5000,- sedangkan roda 4 sebesar Rp. 10.000,-. Kalau bus tronton saya jamin gratis, kalau tronton anda bisa sampai di lokasi dengan selamat.

Well, sampailah kita di lokasi pariwisatanya. Untuk tataran Kolaka, saya acungi jempol dah untuk tukang parkirnya. Mereka betul-betul mengarahkan kendaraan dengan baik. Tak seperti di tempat parkir lain, biasanya hanya memungut tarif parkir, tapi tidak mengarahkan kendaraanya dengan baik. Pas mau keluar juga, tidak membantu pengendara untuk mengeluarkan kendaraanya.

My first impression dari Lokasinya ‘asri’. Ya, moga-moga saja asri selamanya karena ini merupakan object wisata baru di Kolaka. Dari tempat parkir, kelihatan banyak pepohonan tinggi serta puluhan gazebo yang bisa digunakan untuk beristirahat. Untuk sewa Gazebonya dikenakan tarif Rp. 20.000,- untuk sekali kunjung. Disamping gazebo, disana juga ada sebuah aula yang cukup luas. Lumayan untuk digunakan sebagai lokasi seminar atau pelatihan. Ada juga beberapa rumah, mungkin bisa digunakan sebagai Villa menginap disana. Satu lagi fasilitas nya, yaitu Fying fox. Flying foxnya gak terlalu tinggi dan jauh. Dia hanya meluncur dari atas bukit, dan terjun ke bawah. Mungkin jaraknya 300meteran. Tapi lumayan lah buat kalian yang baru pertama kali mencoba flying fox. Sekali meluncur, anda akan dikenakan tariff Rp.10.000,- baik dewasa maupun anak-anak. Tapi harga Rp.10.000,- saya tidak tahu sudah include asuransi kecelakaan atau tidak. Tapi anda sudah difasilitasi dengan safety aids berupa helm dan harness. Aspirin tidak disediakan ya, jadi tolong bawa aspirin dari rumah bagi yang punya riwayat asma.

Karena saya adalah makhluk yang phobia ketinggian, jadi saya hanya menikmati terikan para pengguna flying fox. Lucu saja lihatnya, katanya takut-takut. Tapi tetap aja nekat. Ada yang sampai-sampai buka sepatu. Ada yang istigfar seperti itu adalah hidup terakhirnya. Mungkin ke depannya pihak pengelola juga bisa membuka jasa pembuatan surat wasiat bermaterai buat para pengguna flying fox.

Disamping fliying fox, disana juga telah difasilitasi dengan beberapa ayunan seperti di taman kanak-kanak. Cocok buat emak-emak yang membawa anak-anak kalau anaknya belum mahir berenang di sungai. Well, now let’s move to the main business. Lokasi permandiannya terletak disebelah kanan parkiran. Sebuah sungai yang airnya jernih dan dingin mengalir dengan tenang. Arusnya tak terlalu deras sehingga tidak akan menghanyutkan anak-anak seumuran SD. Kalau bayi, mungkin anda bisa mencobanya sendiri. Sungainya banyak dipenuhi oleh bebatuan. Anda bisa menyusuri sungainya menuju hulu kalau berani. Tapi saya tidak tahu, untuk mencapai hulunya butuh berapa lama. Airnya pun tak terlalu dalam. Yang uniknya adalah beberapa lokasi dipinggiran sungai, anda bisa menikmati sumber air panas. Airnya tak panas amat hingga bisa membuat kulit anda melepuh. Apabila anda kedinginan selepas mandi di sungai, bisalah anda menghangatkan badan di sumber air panas tersebut. Jangan dibayangkan sumber air panas tersebut bisa menghasilkan air yang bisa digunakan berendam ya. Air panasnya hanya bisa digunakan untuk membasuh badan menggunakan gelas-gelas plastik karena sumber airnya hanya berupa mata air kecil.

Karena saya tidak membawa pakaian ganti, jadi saya hanya duduk-duduk di pinggiran sungai di atas batu besar sambil membaca buku ditemani beberapa cemilan ringan yang saya bawa dari rumah. Eits, karena saya orangnya cinta lingkungan, sampah-sampah saya saya taruh di dalam tas dan dibuang di tempat sampah. Tapi yang namanya manusia, pasti aja ada yang bebal kepalanya. Entah gak pernah diajarin di sekolah atau gimana. Potongan makanan ringan dan botol minumannya dibiarkan berserakan di pinggiran sungai. Belum lagi sisa-sisa bungkusan shampoo dan kantong plastik yang ketinggalan. Please, be clever. Yang bikin jijik malah ada beberapa potongan popok bayi yang dibuang dipinggir sungai. Kalau seperti ini mental para pengunjungnya, kealamiahan sungai ini pasti bakalan pupus.

Sumpah, ternyata masih ada makhluk-makhluk seperti ini yang disisain Hitler di muka bumi ini. Padahal disana sudah ditulis dengan jelas, jaga kebersihan. Tempat sampah juga sudah disediakan. Tapi tetep aja, gak bisa membaca. Entah mereka bisa membaca, tapi gak faham sama apa yang dibaca. Pihak yang berwenang, tolong makhluk-makhluk seperti itu ditangkap dan dibina. Atau gak, dijadikan duta lingkungan hidup (INDONESIA BINGITS).

Keindahan alamnya bisa saya nikmati selama 2 jam. Lumayan, tuk menghilangkan penat. Saya bergegas-gegas pulang karena dekat parkiran ada polusi suara (Orang nyetel musik dangdut keras-keras). Dikiranya saya kesini tuk dangdutan ria, padahal kita kesini cuman ingin mencari suara alam. Kalau dangdut pak, saya gak usah jauh-jauh ninggalin rumah.

Buat yang muslim, jangan khawatir karena disana juga telah difasilitasi dengan sebuah Mushollah, lengkap dengan sejadah, sarung, dan mukena. Buat yang over steril alias jijian, silahkan bawa sendiri perlengkapan solatnya dari rumah ya, karena pastinya anda tidak mau menggunakan yang sudah dipakai banyak orang. Apalagi udah bau apek dan jamuran. Namun buat kalian yang over simple, gak mau rempong bawa ini itu, bisa menggunakan peralatan solat yang ada. Dijamin halalan toyyiban.

Bagi yang kebelet juga jangan khawatir, mau nyemplung di sungai boleh, mau pakai toilet juga boleh. Tapi kalau mau pakai toilet, silah rogoh kocek Rp. 2000,- tuk uang kebersihan. Toiletnya bisa juga digunakan sebagai tempat salin pakaian bagi yang malu-malu salin pakaian di alam bebas. Bagi yang bawa duit pas-pas an mending salin pakaian di pinggir sungai saja. Nanti anda akan merasakan sensasi seperti bidadari kayangan yang lagi mandi di sungai, diintipin banyak pasang mata.

Untuk jam kunjungnya saya kurang tahu mulai jam berapa hingga jam berapa. Yang pastinya, sore jam 4 sepertinya masih buka. Anda bisa mandi sepuas-puasnya sampai menggigil. Untuk namanya sendiri, saya agak bingung sih, ada yang menyebutnya Kea- Kea, tapi di karcis masuknya tertulis TWA Mangolo. Silahkan digunakan buat guide bagi anda yang ingin berkunjung ke tempat ini. Enjoy your journey.
Thank you for reading.

Tidak ada komentar: