Semua orang mengenalmu. Kakak tingkat yang sangat aktif di
kepengurusan HMPS. Semua orang kau ulurkan tanganmu. Termasuk aku. Ya, ku masih
ingat ketika tumpukan kardus yang kubawa sambil tergopoh-gopoh, tanpa ujaran
meminta bantuan dariku, kau rebut dari tanganku dengan senyum. Sejak saat itu,
ku tahu bahwa kau primadona, bukan karena parasmu saja, namun kepedulianmu
kepada sesama menambah candu pesonamu kepada semua orang.
Ya, apalah aku. Aku hanyalah orang biasa, yang tak sarat
akan gudang prestasi. Di kelaspun, aku selalu dibayang-banyangi oleh Sila, sang
Juara kelas. Dipanggung pun, aku bukanlah pelakon ataupun penari utama. Ah,
sudahlah. Aku senang dengan semua ini. Dari sini, aku puas mengagumimu dari
kejauhan. Tak jarang kuperhatikan engkau capek dengan aktifitasmu, ingin
rasanya ku berlari menawarkan tissu untuk keringatmu yang bercucuran. Memijat
bahumu untuk mengurasi rasa letihmu. Namun aku takut, kau menampik niat ku itu.
Beberapa kali, kau menangkap pandanganku yang sedang menikmati keindahan
wajahmu dari kejauhan. Namun, ku hanya dapat membuang pandangan ku tuk menutupi
kelancanganku ini. Sungguh, hati ini rasanya tak karuan. Bahagia rasanya. Tak
ada rasa yang sangat bahagia yang pernah kurasakan, menikmati wajahmu dari
kejauhan. Anganku melayang, menyeruak ke dalam relung- relung kalbuku yang
hampa akan primadona hati. Hanya satu, yang sekarang ini mengisinya. Kau.
Namun kekagumanku dan kebahagianku akan dirimu hancur
berkeping-keping ketika hari itu kulihat dirimu, merangkul Sila dengan kedua
tanganmu di acara pentas akhir tahun. Rumorpun menyebar, semua orang
membicarakan itu. Hati ini tersayat, dada ini sesak, kakiku serasa tak mampu
menopang berat tubuhku. Hatiku remuk hancur beekeping-keping, berserakan tak
karuan. Tak ada lagi keberanian untuk mengumpulkan kembali mozaik-mozaik
cintaku yang berserakan dan menyusunnya kembali menjadi sebuah kisah yang baru.
Aku sadar, apalah aku. Aku adalah si pungguk yang merindukan rembulan.
Hari- hariku ku jalani apa adanya. Tak ada gairah, semua
ritme kehidupanku serasa datar. Tak ada hentakan gejolak seperti dulu lagi. Ku
biarkan perasaanku akanmu hanyut mengikuti riak-riak kehidupan yang aku jalani.
Hari-hariku berasa berat dan sesak. Dada ini serasa penuh, ingin memuntahkan
kasih sayang yang tak sampai ini. Kepada siapa? Ya, saya hanya bisa
menuangkannya ke dalam buku diari, satu-satunya makhluk yang dapat kupercaya.
Hari berganti minggu, dan minggu telah berganti bulan. Yang awalnya berat,
namun lama kelamaan terasa ringan juga. Kenangan akan dia dapat ku larutkan
dalam aktifitas ku sehari-hari. Masa itu, ibarat mimpi indah yang diusik
mentari pagi. Kisah yang belum sempat selesai.
Hari itu, kisah yang tak belum selesai itu memberikan
isyarat untuk dirampungkan. Kulihat notification up date status WA ku. Status
yang saya up date 2 jam lalu itu telah memiliki 12 vievers. Hmmm…. Ku tekan
view icon tuk melihat siapa-siapa saja mereka. ‘Aksara PBI A’ ku kucek
berkali-kali mataku tak percaya dengan apa yang ku baca. Dia bisa melihat
recent up date statusku. Berarti sekarang Nomor WA ku tersimpan di dalam daftar
nomor telefonnya. Teringat, nomor telefonnya tak sengaja ku simpan pada saat
menjadi panitia pesiapan penyambutan mahasiswa baru pada semester lalu. Ku simpan
karena ku diamanahkan untuk menkonfirmasi penyewaan kursi untuk acara
penyambutan tersebut. Namun ku tidak jadi menghubunginya karena telah dikonfirmasi
duluan oleh bagian acara. Kubertanya-tanya, entah kenapa dia bisa menyimpan
nomor WA saya di phonebooknya. Ah, sudahlah.. mungkin karna kebutuhan group
mungkin. Daripada saya dibuatnya geer. Lebih baik memikirkan hal-hal yang
positif saja. Dan ternyata benar, 10 menit kemudian ku sudah dimasukkan ke
dalam group pengurus Bem Jurusan PBI. Ku hanya tersenyum kecut. Gaung tak
bersambut batinku.
Dalam dekat ini, kepengurusan BEM Jurusan kami akan
mengadakan Academic Camp untuk para Freshmen. Kupun ditunjuk menjadi panitia di
Seksi Acara. Acara yang berlangsung selama 3 hari di Kaliurang itu betul-betul
menguras tenagaku. 10 orang seksi acara tak cukup untuk mengarahkan 150 peserta
ini, mereka betul-betul menghabiskan suara dan tenaga untuk berteriak
mengarahkan mereka yang bebal dengan instruksi, baik untuk persiapan penerimaan
material, saat makan, istirahat, dan sebagainya.
Setelah membagi para peserta ke dalam kelompok kecil di Aula,
kupun bersungut ke ruang panitia untuk mengambil berbagai keperluan media kelompok
tersebut. Kepalaku agak pening, ku kembali ke Aula, dan memberikan kepada teman
panitia lain untuk mendistribusiakn media tersebut. Kusisir seluruh kelompok,
memastikan mereka mendapatkan keperluan yang mereka butuhkan. Kupun sampai di
kelompok terakhir. Ku seka keringat yang bercucuran dengan ujung jilbab kain
katun yang kukenakan ini. Sungguh, saya salah kostum. Harusnya ku mengenakan
jilbab berbahan kaos agar mudah menyerap keringat. Bajupun juga, sangat panas
karena terbuat dari katun. Ku tak bisa lukiskan seperti apa penampilanku saat
ini. ‘Kucel’ mungkin kata yang tepat kulukiskan keadaanku sekarang ini. Wajah
awut-awutan, pakaian sudah mulai berbau keringat dengan pakaian berbahan katun.
Kuperhatikan Aksara yang sedang duduk mengawasi peserta yang
sibuk dengan tugas mereka. ‘Capek?’ tanyanya kepadaku. Ku hanya tersenyum
sembari duduk di sampingnya mengawasi peserta. Seorang peserta meminta bantuan
kepada Aksara, dan diapun memindahkan posisi duduknya dihadapanku. Sehingga
posisi duduknya tepat memunggungiku. Entah, tiba-tiba kupun mengatakan
kepadanya jangan bergerak sembari menyandarkan kepalaku yang telah terasa berat
di punggungnya. Dia tak mengiyakan, dan tidak pula menyatakan keberatan. Dia
hanya diam dan tak bergerak. Sungguh damai perasaan ini, ketika pertama kali
kita dapat menyandarkan perasaan ini kepada orang yang kita kagumi. Kepala yang
awalnya terasa berat, tiba-tiba terasa ringan. Dada ini serasa lapang berongga
dipenuhi kupu-kupu yang terbang.
Tiba-tiba punggung itu bergerak, kupun terperanjak kaget.
Malu rasanya, entah berapa lama kusandarkan kepala ini disana. Kupun agak salah
tingkah. Kupun mencari seribu alas an untuk meninggalkan kelompok itu. Ku hanya
berdiri, tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Dan langsung berlari-lari kecil.
Aduh, sungguh goblok diri ini pekikku dalam hati. Apa yang Aksa fikirkan ketika
melihat tingkahku tadi.
Sejak saat itu, dia semakin akrab denganku. Ku tentunya
makin senang, karena orang yang ku kagumi dari kejauhan akhirnya bisa dekat
dengaku. Namun bagaimana dengan Sila? Bukankah rumor mengatakan mereka berdua
dekat? Ah… masa bodoh. Yang penting ku bisa dekat dengan Aksara. Itulah
keegoisanku. Terkadang ku buta akan orang lain ketika ku menyukai sesuatu.
Setelah kegiatan Academic Camp tersebut, kamipun semakin
akrab. Berpapasan di jalan pun kini saling sapa. Up Date status WA ku pun juga
sering di viewe oleh nya bahkan di komentari olehnya. Kadang kupun tak sabar
mengecek status up date ku, dengan harapan Aksa telah melihat. Ketika dia belum
melihat status up dateku, ku pun selalu mengecek kapan terakhir dia online di
WA. Ah, sungguh fikiranku sekarang sungguh tak menentu. Ku hanya kebanyakan
menghabiskan waktu di WA mengecek status online dia. Ketika ku melihat dia
online 10 menit yang lalu, namun tak melihat status yang saya Up date satu jam
yang lalu, hati ini kecewa. Kupantangin mengecek status online dia, itupun
cukup membuatku senang. Ya, sekarang ku memiliki hobby baru. Mantengin status
online Aksa. Status online Aksa ternyata sama menariknya dengan buku. Hingga
akhirnya, kupun jarang membaca buku. Persahabatan kami bukan cumin hanya di WA,
namun juga di Facebook. Dia meng add facebook ku. Dengan cepat ku terima
permintaan pertemanan tersebut. Telah lama ku ingin meng add facebooknya, namun
ku tak berani. Takut tak di terima. Ku explore seluruh foto-foto lamanya, mulai
SMA hingga sekarang untuk membaca seperti apakah dia. Ternyata cinta pun dapat
membuat orang mendadak menjadi seolah peneliti dan psikolog.
Setelah berteman di facebook, tiap up date an statusku dia
like. Kupun dibuatnya GR. Bukan hanya itu, beberapa foto lamaku juga dia like.
Hati ini dibuatnya tak menentu. Pikiran ini dibuatnya berhipotesa yang
tidak-tidak. ‘He has the same feeling as I feel’ fikirku. Namun hipotesaku ini
belakangan terbantah. Pada suatu ketika, kami duduk beramai- ramai menonton
pertandingan basket di gelanggang olah raga. Karena posisi dudukku lebih tinggi
dari dia, kuperhatikan dia asyik meng scroll status facebook di beranda.
Semuanya dia like atau diberikan nya
emoticon love. “An*rit” pekikku dalam hati. Ternyata selama ini, saya yang
terlalu ke geeran. Memang seperti itulah cara dia bermain facebook.
Bukan cuman itu saja dia membuat ku geer tak ketulungan.
Pernah, pada suatu acara, ketika kami sedang bercanda ria, dia tertawa sambil
menyandarkan kepalanya di pundakku. Meskipun hanya beberapa detik, namun itu
membuat pikiran ini bingung. Dilain kesempatan, ketika para pengurus akan ber
wefiee ria, dirangkulnya bahu ini sambil mengatakan ‘cheers’. Ah… sudah berapa
kali hati ini dibuatnya bingung. Dan selalu, fakta yang berkebalikan yang
terbukti. Mungkin perasaan ini yang terlalu besar, sehingga menutup akal
sehatku. Kutak ingin menenggak pill pahit lagi.
Aku tak tahan lagi seperti ini. Ku tak sadar, ternyata ku
telah melangkah sejauh ini. Serpihan cintaku yang dulu telah terberai berkeping
keeping, ternyata tak kusadari, ku nekat merangkainya kembali. Dan apa yang ada
di depanku adalah rangkaian mozaik yang justru makin tak beraturan. Memusingkan
bak sebuah taman labirin. Mungkin aku membutuhkan tempat dan waktu untuk menjernihkan
kembali akal sehatku. Mengaktifkan logika, dan dan menerima H0 bahwasanya ‘He
has no feeling on me’.
Kutatap dari kejauhan, kapal-kapal barang sedang membongkar
muatannya. Para buruh-buruh panggul mengusap keringatnya yang bercucuran tanda
pekerjaan mereka sangat berat. Hati ini gundah, tak menentu. Dada ini terasa
sesak tak tenang. Ku coba menghirup nafas pelan-pelan menikmati hembusan angin
laut yang menerpa wajah ini dengan lembut. Berganti-ganti gulungan ombak
menerpa pinggiran dermaga, sambil memberikan percikannya kearah kaki ini.
Sungguh indah ku rasa. Kuambil Hand Phone ku untuk mengabadikan gulungan-gulungan
ini. Setelah kuabadikan dengan beberapa gambar, kupun membuka applikasi WA
untuk mengecek pesan yang masuk. Beberapa pesan masuk, dan kubalas. Tampak
recent up date Rena, Sekretaris BEM Fakultas, menampilkan wajah yang familiar
buatku. Perasaanku tak enak, namun hati ini tak tenang apabila ku tak
melihatnya dengan pasti. Tampak mereka sedang ber wefie ria dengan tangan Aksa yang
merangkul pinggul Rena dari belakang dengan wajah senyum sumringah mata
tertutup. Dada ini serasa penuh, ingin memuntahkan segala isi dalamnya. Jantung
berdegub kencang. Ku hanya bisa menghela nafas, mengontrol aliran nafasku yang
semakin serasa berat. Tangan ini bergetar mengetik di kolom komentar. “Senang
ya… acara up grading fakultasnya. Apalagi tuh Aksa” Tulisku. Tak lama kemudian
pesan barupun masuk. ‘Iya, apalagi Aksa. Nempel terus kek perangko.’ Balas Rena.
Ingin ku berteriak membaca balasan Rena. Seperti inikah rasanya angan yang tak
sampai.
Serpihan-serpihan yang baru kembali ku rangkai kembali
tersiak dihempas harapan hampa. Ya, kenekatanku tuk mengaharapkannya yang
begitu tinggi, menghempaskan hati ini lebih keras pula ke bawah. Ku pun
berjalan ke hamparan pasir putih dengan langkah lunglai. Teka-teki hati ini
terjawab sudah, bak matahari di siang bolong. Aku hanyalah menengadahkan
tangan, berharap dapat merengkuh angin yang berhembus. Ia tak berwujud, namun
dirasa. Sakit, perih tak terkira. Kutatap ke dalam lautan. Sungguh jernih
airnya. Ombak berkejar-kejaran bak pinggiran tirai kain yang ditiup angin. Ada
yang mengejar, dan adapula yang mengejar. Kadang kita sibuk mengejar, dan yang
dikejar pun sibuk mengejar sesuatu yang lain. Dan dibelakang kita adapula yang
sibuk mengejar kita, namun kita hanya fokus ke depan dengan kepala yang tak
sempat menoleh, takut kehilangan target di depan.
Kuberusaha memotivasi diriku untuk bangkit dari kubangan
ini. Anggaplah Aksa adalah mimpi indahku tadi malam. Mimpi yang telah menghiasi
beberapa waktu dalam memori ini. Sekarang telah pagi, waktunya mengisi dengan
hal yang nyata.
To be continued…….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar