Translate

Minggu, 10 Juni 2018

Mozaik Cinta



Semua orang mengenalmu. Kakak tingkat yang sangat aktif di kepengurusan HMPS. Semua orang kau ulurkan tanganmu. Termasuk aku. Ya, ku masih ingat ketika tumpukan kardus yang kubawa sambil tergopoh-gopoh, tanpa ujaran meminta bantuan dariku, kau rebut dari tanganku dengan senyum. Sejak saat itu, ku tahu bahwa kau primadona, bukan karena parasmu saja, namun kepedulianmu kepada sesama menambah candu pesonamu kepada semua orang.

Ya, apalah aku. Aku hanyalah orang biasa, yang tak sarat akan gudang prestasi. Di kelaspun, aku selalu dibayang-banyangi oleh Sila, sang Juara kelas. Dipanggung pun, aku bukanlah pelakon ataupun penari utama. Ah, sudahlah. Aku senang dengan semua ini. Dari sini, aku puas mengagumimu dari kejauhan. Tak jarang kuperhatikan engkau capek dengan aktifitasmu, ingin rasanya ku berlari menawarkan tissu untuk keringatmu yang bercucuran. Memijat bahumu untuk mengurasi rasa letihmu. Namun aku takut, kau menampik niat ku itu. Beberapa kali, kau menangkap pandanganku yang sedang menikmati keindahan wajahmu dari kejauhan. Namun, ku hanya dapat membuang pandangan ku tuk menutupi kelancanganku ini. Sungguh, hati ini rasanya tak karuan. Bahagia rasanya. Tak ada rasa yang sangat bahagia yang pernah kurasakan, menikmati wajahmu dari kejauhan. Anganku melayang, menyeruak ke dalam relung- relung kalbuku yang hampa akan primadona hati. Hanya satu, yang sekarang ini mengisinya. Kau.

Namun kekagumanku dan kebahagianku akan dirimu hancur berkeping-keping ketika hari itu kulihat dirimu, merangkul Sila dengan kedua tanganmu di acara pentas akhir tahun. Rumorpun menyebar, semua orang membicarakan itu. Hati ini tersayat, dada ini sesak, kakiku serasa tak mampu menopang berat tubuhku. Hatiku remuk hancur beekeping-keping, berserakan tak karuan. Tak ada lagi keberanian untuk mengumpulkan kembali mozaik-mozaik cintaku yang berserakan dan menyusunnya kembali menjadi sebuah kisah yang baru. Aku sadar, apalah aku. Aku adalah si pungguk yang merindukan rembulan.

Hari- hariku ku jalani apa adanya. Tak ada gairah, semua ritme kehidupanku serasa datar. Tak ada hentakan gejolak seperti dulu lagi. Ku biarkan perasaanku akanmu hanyut mengikuti riak-riak kehidupan yang aku jalani. Hari-hariku berasa berat dan sesak. Dada ini serasa penuh, ingin memuntahkan kasih sayang yang tak sampai ini. Kepada siapa? Ya, saya hanya bisa menuangkannya ke dalam buku diari, satu-satunya makhluk yang dapat kupercaya. Hari berganti minggu, dan minggu telah berganti bulan. Yang awalnya berat, namun lama kelamaan terasa ringan juga. Kenangan akan dia dapat ku larutkan dalam aktifitas ku sehari-hari. Masa itu, ibarat mimpi indah yang diusik mentari pagi. Kisah yang belum sempat selesai.

Hari itu, kisah yang tak belum selesai itu memberikan isyarat untuk dirampungkan. Kulihat notification up date status WA ku. Status yang saya up date 2 jam lalu itu telah memiliki 12 vievers. Hmmm…. Ku tekan view icon tuk melihat siapa-siapa saja mereka. ‘Aksara PBI A’ ku kucek berkali-kali mataku tak percaya dengan apa yang ku baca. Dia bisa melihat recent up date statusku. Berarti sekarang Nomor WA ku tersimpan di dalam daftar nomor telefonnya. Teringat, nomor telefonnya tak sengaja ku simpan pada saat menjadi panitia pesiapan penyambutan mahasiswa baru pada semester lalu. Ku simpan karena ku diamanahkan untuk menkonfirmasi penyewaan kursi untuk acara penyambutan tersebut. Namun ku tidak jadi menghubunginya karena telah dikonfirmasi duluan oleh bagian acara. Kubertanya-tanya, entah kenapa dia bisa menyimpan nomor WA saya di phonebooknya. Ah, sudahlah.. mungkin karna kebutuhan group mungkin. Daripada saya dibuatnya geer. Lebih baik memikirkan hal-hal yang positif saja. Dan ternyata benar, 10 menit kemudian ku sudah dimasukkan ke dalam group pengurus Bem Jurusan PBI. Ku hanya tersenyum kecut. Gaung tak bersambut batinku.

Dalam dekat ini, kepengurusan BEM Jurusan kami akan mengadakan Academic Camp untuk para Freshmen. Kupun ditunjuk menjadi panitia di Seksi Acara. Acara yang berlangsung selama 3 hari di Kaliurang itu betul-betul menguras tenagaku. 10 orang seksi acara tak cukup untuk mengarahkan 150 peserta ini, mereka betul-betul menghabiskan suara dan tenaga untuk berteriak mengarahkan mereka yang bebal dengan instruksi, baik untuk persiapan penerimaan material, saat makan, istirahat, dan sebagainya.

Setelah membagi para peserta ke dalam kelompok kecil di Aula, kupun bersungut ke ruang panitia untuk mengambil berbagai keperluan media kelompok tersebut. Kepalaku agak pening, ku kembali ke Aula, dan memberikan kepada teman panitia lain untuk mendistribusiakn media tersebut. Kusisir seluruh kelompok, memastikan mereka mendapatkan keperluan yang mereka butuhkan. Kupun sampai di kelompok terakhir. Ku seka keringat yang bercucuran dengan ujung jilbab kain katun yang kukenakan ini. Sungguh, saya salah kostum. Harusnya ku mengenakan jilbab berbahan kaos agar mudah menyerap keringat. Bajupun juga, sangat panas karena terbuat dari katun. Ku tak bisa lukiskan seperti apa penampilanku saat ini. ‘Kucel’ mungkin kata yang tepat kulukiskan keadaanku sekarang ini. Wajah awut-awutan, pakaian sudah mulai berbau keringat dengan pakaian berbahan katun.

Kuperhatikan Aksara yang sedang duduk mengawasi peserta yang sibuk dengan tugas mereka. ‘Capek?’ tanyanya kepadaku. Ku hanya tersenyum sembari duduk di sampingnya mengawasi peserta. Seorang peserta meminta bantuan kepada Aksara, dan diapun memindahkan posisi duduknya dihadapanku. Sehingga posisi duduknya tepat memunggungiku. Entah, tiba-tiba kupun mengatakan kepadanya jangan bergerak sembari menyandarkan kepalaku yang telah terasa berat di punggungnya. Dia tak mengiyakan, dan tidak pula menyatakan keberatan. Dia hanya diam dan tak bergerak. Sungguh damai perasaan ini, ketika pertama kali kita dapat menyandarkan perasaan ini kepada orang yang kita kagumi. Kepala yang awalnya terasa berat, tiba-tiba terasa ringan. Dada ini serasa lapang berongga dipenuhi kupu-kupu yang terbang.

Tiba-tiba punggung itu bergerak, kupun terperanjak kaget. Malu rasanya, entah berapa lama kusandarkan kepala ini disana. Kupun agak salah tingkah. Kupun mencari seribu alas an untuk meninggalkan kelompok itu. Ku hanya berdiri, tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Dan langsung berlari-lari kecil. Aduh, sungguh goblok diri ini pekikku dalam hati. Apa yang Aksa fikirkan ketika melihat tingkahku tadi.

Sejak saat itu, dia semakin akrab denganku. Ku tentunya makin senang, karena orang yang ku kagumi dari kejauhan akhirnya bisa dekat dengaku. Namun bagaimana dengan Sila? Bukankah rumor mengatakan mereka berdua dekat? Ah… masa bodoh. Yang penting ku bisa dekat dengan Aksara. Itulah keegoisanku. Terkadang ku buta akan orang lain ketika ku menyukai sesuatu.
Setelah kegiatan Academic Camp tersebut, kamipun semakin akrab. Berpapasan di jalan pun kini saling sapa. Up Date status WA ku pun juga sering di viewe oleh nya bahkan di komentari olehnya. Kadang kupun tak sabar mengecek status up date ku, dengan harapan Aksa telah melihat. Ketika dia belum melihat status up dateku, ku pun selalu mengecek kapan terakhir dia online di WA. Ah, sungguh fikiranku sekarang sungguh tak menentu. Ku hanya kebanyakan menghabiskan waktu di WA mengecek status online dia. Ketika ku melihat dia online 10 menit yang lalu, namun tak melihat status yang saya Up date satu jam yang lalu, hati ini kecewa. Kupantangin mengecek status online dia, itupun cukup membuatku senang. Ya, sekarang ku memiliki hobby baru. Mantengin status online Aksa. Status online Aksa ternyata sama menariknya dengan buku. Hingga akhirnya, kupun jarang membaca buku. Persahabatan kami bukan cumin hanya di WA, namun juga di Facebook. Dia meng add facebook ku. Dengan cepat ku terima permintaan pertemanan tersebut. Telah lama ku ingin meng add facebooknya, namun ku tak berani. Takut tak di terima. Ku explore seluruh foto-foto lamanya, mulai SMA hingga sekarang untuk membaca seperti apakah dia. Ternyata cinta pun dapat membuat orang mendadak menjadi seolah peneliti dan psikolog.

Setelah berteman di facebook, tiap up date an statusku dia like. Kupun dibuatnya GR. Bukan hanya itu, beberapa foto lamaku juga dia like. Hati ini dibuatnya tak menentu. Pikiran ini dibuatnya berhipotesa yang tidak-tidak. ‘He has the same feeling as I feel’ fikirku. Namun hipotesaku ini belakangan terbantah. Pada suatu ketika, kami duduk beramai- ramai menonton pertandingan basket di gelanggang olah raga. Karena posisi dudukku lebih tinggi dari dia, kuperhatikan dia asyik meng scroll status facebook di beranda. Semuanya dia like atau diberikan nya emoticon love. “An*rit” pekikku dalam hati. Ternyata selama ini, saya yang terlalu ke geeran. Memang seperti itulah cara dia bermain facebook.

Bukan cuman itu saja dia membuat ku geer tak ketulungan. Pernah, pada suatu acara, ketika kami sedang bercanda ria, dia tertawa sambil menyandarkan kepalanya di pundakku. Meskipun hanya beberapa detik, namun itu membuat pikiran ini bingung. Dilain kesempatan, ketika para pengurus akan ber wefiee ria, dirangkulnya bahu ini sambil mengatakan ‘cheers’. Ah… sudah berapa kali hati ini dibuatnya bingung. Dan selalu, fakta yang berkebalikan yang terbukti. Mungkin perasaan ini yang terlalu besar, sehingga menutup akal sehatku. Kutak ingin menenggak pill pahit lagi.
Aku tak tahan lagi seperti ini. Ku tak sadar, ternyata ku telah melangkah sejauh ini. Serpihan cintaku yang dulu telah terberai berkeping keeping, ternyata tak kusadari, ku nekat merangkainya kembali. Dan apa yang ada di depanku adalah rangkaian mozaik yang justru makin tak beraturan. Memusingkan bak sebuah taman labirin. Mungkin aku membutuhkan tempat dan waktu untuk menjernihkan kembali akal sehatku. Mengaktifkan logika, dan dan menerima H0 bahwasanya ‘He has no feeling on me’.

Kutatap dari kejauhan, kapal-kapal barang sedang membongkar muatannya. Para buruh-buruh panggul mengusap keringatnya yang bercucuran tanda pekerjaan mereka sangat berat. Hati ini gundah, tak menentu. Dada ini terasa sesak tak tenang. Ku coba menghirup nafas pelan-pelan menikmati hembusan angin laut yang menerpa wajah ini dengan lembut. Berganti-ganti gulungan ombak menerpa pinggiran dermaga, sambil memberikan percikannya kearah kaki ini. Sungguh indah ku rasa. Kuambil Hand Phone ku untuk mengabadikan gulungan-gulungan ini. Setelah kuabadikan dengan beberapa gambar, kupun membuka applikasi WA untuk mengecek pesan yang masuk. Beberapa pesan masuk, dan kubalas. Tampak recent up date Rena, Sekretaris BEM Fakultas, menampilkan wajah yang familiar buatku. Perasaanku tak enak, namun hati ini tak tenang apabila ku tak melihatnya dengan pasti. Tampak mereka sedang ber wefie ria dengan tangan Aksa yang merangkul pinggul Rena dari belakang dengan wajah senyum sumringah mata tertutup. Dada ini serasa penuh, ingin memuntahkan segala isi dalamnya. Jantung berdegub kencang. Ku hanya bisa menghela nafas, mengontrol aliran nafasku yang semakin serasa berat. Tangan ini bergetar mengetik di kolom komentar. “Senang ya… acara up grading fakultasnya. Apalagi tuh Aksa” Tulisku. Tak lama kemudian pesan barupun masuk. ‘Iya, apalagi Aksa. Nempel terus kek perangko.’ Balas Rena. Ingin ku berteriak membaca balasan Rena. Seperti inikah rasanya angan yang tak sampai.

Serpihan-serpihan yang baru kembali ku rangkai kembali tersiak dihempas harapan hampa. Ya, kenekatanku tuk mengaharapkannya yang begitu tinggi, menghempaskan hati ini lebih keras pula ke bawah. Ku pun berjalan ke hamparan pasir putih dengan langkah lunglai. Teka-teki hati ini terjawab sudah, bak matahari di siang bolong. Aku hanyalah menengadahkan tangan, berharap dapat merengkuh angin yang berhembus. Ia tak berwujud, namun dirasa. Sakit, perih tak terkira. Kutatap ke dalam lautan. Sungguh jernih airnya. Ombak berkejar-kejaran bak pinggiran tirai kain yang ditiup angin. Ada yang mengejar, dan adapula yang mengejar. Kadang kita sibuk mengejar, dan yang dikejar pun sibuk mengejar sesuatu yang lain. Dan dibelakang kita adapula yang sibuk mengejar kita, namun kita hanya fokus ke depan dengan kepala yang tak sempat menoleh, takut kehilangan target di depan.
Kuberusaha memotivasi diriku untuk bangkit dari kubangan ini. Anggaplah Aksa adalah mimpi indahku tadi malam. Mimpi yang telah menghiasi beberapa waktu dalam memori ini. Sekarang telah pagi, waktunya mengisi dengan hal yang nyata.

 To be continued…….

Tidak ada komentar: